Terus Tumbuh 🌱

Warga Menjerit Kesulitan Air Bersih Wali Kota Tangerang Tolong Kami

Masyarakat menjerit kesulitan air bersih. Itulah yang dialami warga Kota Tangerang pada hari ini. Krisis air bersih sedang menghantui wilayah yang merupakan tetangga DKI Jakarta tersebut.

Mereka pun pada akhirnya bernasib lirih. Masyarakat perlu uluran bantuan karena sudah berhari-hari sangat memerlukan air bersih. Lantas kemana Wali Kota Tangerang di saat warganya kesulitan seperti ini?

Warga di sejumlah wilayah Kota Tangerang harus berjibaku menghadapi krisis air bersih sejak beberapa hari terakhir. Penyebabnya, terjadi kebocoran pipa milik Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang yang memasok kebutuhan masyarakat di beberapa kecamatan. Akibat insiden tersebut, distribusi air ke rumah-rumah warga terhenti, khususnya di wilayah Jatiuwung, Periuk, Cibodas, dan Karawaci.

Dampak paling parah dirasakan oleh warga Perumahan Keroncong Permai, Kecamatan Jatiuwung, serta Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Periuk. Ribuan kepala keluarga di kawasan ini sudah hampir satu pekan kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

Bagi warga yang sehari-hari bergantung sepenuhnya pada PDAM, kondisi ini membuat aktivitas rumah tangga lumpuh. Air yang sebelumnya masih mengalir pun sudah dalam keadaan keruh sebelum benar-benar berhenti.

Sulis Setiawati, warga RT 08 RW 03 Perumahan Keroncong Permai, menceritakan bahwa sebanyak 70 kepala keluarga di lingkungannya kini harus mencari alternatif air. Menurutnya, sejak awal minggu lalu, aliran air PDAM yang masuk ke rumah warga sudah dalam kondisi keruh. Hingga akhirnya, dua hari terakhir benar-benar mati total. Minggu, (14/9/2025).

“Air sebelum mati dari PDAM ya sudah keruh, hampir seminggu keruh terus mati. Kemarin masih ada sedikit ngalir, itu pun cuma di keran bawah. Tapi sekarang udah dua hari sama sekali enggak ada yang keluar. Padahal kita butuh air semua, ibu-ibu paling repot, semuanya pakai PDAM. Ini yang paling parah. Wali Kota Tangerang Pak Sachrudin kemana ini tolong kami,” ungkap Sulis dengan nada kecewa.

Ia menambahkan, dampak krisis air langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari. Urusan mencuci pakaian, kebutuhan anak-anak, hingga sanitasi rumah tangga jadi terganggu. “Ya dampaknya semua lah, buat ibu-ibu nyuci susah. Kita kan punya anak kecil, kalau buang air kecil atau besar kan butuh air. Air itu segalanya,” katanya.

Meski begitu, warga tetap berupaya memenuhi kebutuhan dengan berbagai cara. Bantuan air bersih datang dari Disbudpar, BPBD dan juga dari anggota DPRD setempat. Namun, suplai itu belum sepenuhnya mencukupi. Beberapa warga bahkan terpaksa membeli air dari pedagang swasta untuk kebutuhan mendesak.

“Kemarin ada bantuan dari dinas dan dari dewan juga, tapi ada juga bapak-bapak yang beli sendiri buat ngisi tangki, terus dibagiin ke kita secara sukarela. Jadi ya seadanya, enggak semua kebagian banyak,” jelas Sulis.

Sebagai pelanggan PDAM, warga mengaku kecewa atas kejadian ini. Mereka menilai perusahaan seharusnya lebih cepat tanggap, termasuk dengan melakukan survei kualitas air sejak awal tanda-tanda kerusakan muncul.

“Harusnya PDAM itu survei dari kemarin. Kalau kompensasi, ya paling enggak bulan depan kita jangan disuruh bayar. Toh selama ini kita sudah keluar uang beli air sendiri. Jadi ya kalau bisa bulan ini gratis. Tapi yang lebih penting, ke depan jangan sampai kejadian begini lagi,” tegas Sulis.

Menurutnya, rata-rata warga di Perumahan Keroncong Permai membayar tagihan Perumda Tirta Benteng antara Rp100 ribu hingga Rp160 ribu per bulan, tergantung pemakaian. Namun ironisnya, air yang dibayar justru sering keruh sebelum akhirnya mati.

Tidak hanya mengandalkan bantuan, warga juga berinisiatif menghidupkan kembali sumur dan jetpump lama yang sebelumnya tidak terpakai. Ketua RT 02 RW 03, M Sukadi, menyebut langkah gotong royong ini dilakukan demi meringankan beban warga yang sudah empat hingga lima hari tidak mendapatkan pasokan air.

“Warga kami selama PDAM mati ini sangat mengharapkan air. Akhirnya kami coba hidupkan kembali jetpump lama yang ada, walaupun debit airnya kecil, tapi lumayan bisa membantu. Sementara untuk kebutuhan besar, ya warga beli atau ngirit-ngirit penggunaan,” jelas Sukadi.