Dugaan perilaku tidak etis yang melibatkan seorang guru besar dari Universitas Padjadjaran kembali menghebohkan media sosial.
Kasus ini mencuat setelah sebuah unggahan viral di platform Threads. Selanjutnya, isu tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu berbagai reaksi publik.
Konten tersebut pertama kali diunggah oleh akun X @draftanakunpad4. Dalam unggahan itu, ditampilkan sejumlah tangkapan layar percakapan.
Dari percakapan tersebut, terlihat dugaan komunikasi tidak profesional antara seorang guru besar dengan mahasiswi asing yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Unpad.
Berdasarkan informasi yang beredar, sosok yang diduga sebagai guru besar disebut berulang kali menghubungi mahasiswi tersebut melalui chat.
Selain itu, isi percakapan dinilai tidak pantas karena memuat permintaan pribadi yang tidak relevan dengan konteks akademik.
“I need your photo, when swim in the Phuket beach, wearing bikini,” bunyi salah satu pesan.
Permintaan tersebut langsung ditolak oleh korban. Ia menegaskan tidak bersedia membagikan foto pribadi dengan konten seperti itu.
Namun demikian, penolakan tersebut tidak menghentikan komunikasi. Oknum tersebut diduga terus mencoba mendekati korban dengan berbagai alasan.
Misalnya, ia berdalih ingin membantu meredakan tekanan akademik yang dialami korban selama studi.
Bahkan, dalam percakapan lanjutan, oknum itu menyarankan korban mengonsumsi minuman beralkohol jenis brandy agar lebih rileks.
“Yes, please drink more Brandy and then swim… All academic stressful task would go out,” tulisnya.
Tindakan tersebut pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, hal ini dinilai sebagai bentuk manipulasi psikologis yang tidak etis, terlebih dilakukan oleh seorang akademisi.
Di sisi lain, situasi semakin memanas ketika pelaku tetap menghubungi korban meski sudah ditolak.
“I miss you, how are you?” tulisnya.
“I am still waiting your bikini style,” tambah pesan tersebut.
Tindakan tersebut pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, hal ini dinilai sebagai bentuk manipulasi psikologis yang tidak etis, terlebih dilakukan oleh seorang akademisi.
Di sisi lain, situasi semakin memanas ketika pelaku tetap menghubungi korban meski sudah ditolak.
“I miss you, how are you?” tulisnya.
“I am still waiting your bikini style,” tambah pesan tersebut.
Korban diketahui memberikan persetujuan agar bukti percakapan dipublikasikan. Tujuannya adalah untuk mengungkap dugaan pelanggaran etika profesional di lingkungan akademik.
Sementara itu, sorotan publik semakin kuat setelah beredar tangkapan layar akun resmi fakultas yang sebelumnya mengunggah ucapan selamat atas pengukuhan sosok tersebut sebagai guru besar pada 14 April 2026.
Hingga kini, kasus tersebut masih menjadi perhatian luas dan menunggu klarifikasi resmi dari pihak terkait.
(Syf)















