Terus Tumbuh 🌱

Gandeng Marinus Gea, BPIP Gelar Penguatan Kebajikan Pancasila bersama Ratusan Kader

Anggota DPR RI Komisi XIII, Marinus Gea, menegaskan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui penguatan Relawan Kebajikan Pancasila. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan Penguatan Relawan Kebajikan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Tangerang, Kamis (2/7/2026).

Menurut Marinus, Indonesia dibangun di atas kesepakatan luhur yang disebut Pancasila. Pancasila katanya sebagai titik temu kebangsaan, rumah bersama, dan jalan tengah yang mempersatukan keberagaman Indonesia.

Marinus mengatakan, nilai Pancasila tidak hanya berhenti pada pemahaman dan penghafalan. Namun, Pancasila harus dihidupi karena nilainya dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Pancasila harus dihidupi. Pancasila harus diwujudkan. Pancasila harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai Kebajikan Pancasila,” ujar Marinus.

Ia menjelaskan, Kebajikan Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata, dalam perilaku sehari-hari, dalam cara memimpin, dalam cara melayani, dan dalam cara memperlakukan sesama manusia.

“Sesungguhnya ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa banyak orang menghafal lima sila, melainkan seberapa banyak nilai lima sila itu hidup dalam kehidupan bangsa,” kata Marinus.

Dalam kesempatan tersebut, Marinus juga menyinggung pentingnya Sosialisasi 4 Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.

Namun, menurutnya, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya persoalan pemahaman, melainkan implementasi.

“Kita menyaksikan masih adanya intoleransi. Masih adanya korupsi. Masih adanya ketidakadilan sosial. Masih adanya penyalahgunaan teknologi digital. Masih adanya budaya saling mencurigai dan saling menyerang di ruang publik,” ujarnya.

“Artinya, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Persoalan kita adalah kekurangan keteladanan. Kekurangan penggerak kebajikan. Kekurangan warga negara yang bersedia menjadi contoh,” sambung Marinus.

Karena itu, ia menegaskan bahwa dengan adanya Relawan Kebajikan Pancasila maka gagasannya lebih terarah pada penguatan karakter hingga menghidupi nilai pancasila bagi masyarakat.

“Dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan kebajikan sosial. Dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi karakter. Dari sekadar memahami nilai menjadi menghidupi nilai. Di sinilah lahir gagasan Relawan Kebajikan Pancasila,” kata Marinus.

Ia menegaskan, Relawan Kebajikan Pancasila bukan organisasi yang dibangun untuk kepentingan politik elektoral maupun kepentingan kelompok tertentu, melainkan gerakan moral kebangsaan dan gerakan warga negara yang bersedia menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

“Perubahan bangsa tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan bangsa sering kali dimulai dari keteladanan. Karena itu sesungguhnya kekuatan bangsa bukan terletak pada gedung-gedung yang megah, bukan pada teknologi yang canggih, bukan pada sumber daya alam yang melimpah. Kekuatan bangsa terletak pada karakter manusianya,” tegas Marinus.

Menjelang Indonesia Emas 2045, Marinus mengingatkan bahwa bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi juga bangsa yang berkarakter, memiliki integritas, rasa keadilan, dan kepedulian sosial.

“Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya berbicara tentang kebaikan. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang melakukan kebaikan. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya menghafal Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang menghidupi Pancasila,” ujar Marinus.