Terus Tumbuh 🌱

Viral Soal LPDP, Ini Sederet Kontribusi Tasya Kamila Sebagai Alumni

Program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) belakangan semakin menjadi perbincangan publik.

Perbincangan tersebut berawal dari polemik yang menyeret nama Dwi Sasetyaningtyas. Kasus ini memantik diskusi luas mengenai kelayakan penerima beasiswa LPDP. Selain itu, publik menyoroti figur publik yang dinilai memiliki kemampuan finansial memadai.

Akibat dari perdebatan tersebut, nama Tasya Kamila turut menjadi perbincangan sebagai salah satu alumni LPDP. 

Lebih lanjut, publik mempertanyakan kontribusi nyata penerima beasiswa setelah lulus. Terlebih, sorotan mengarah pada mereka yang tidak aktif di sektor formal. Karena itu, isu dampak program LPDP kembali mengemuka di ruang publik.

Tasya Kamila, yang saat ini fokus menjalani peran sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak, tak luput dari pertanyaan serupa. Ia lantas menyampaikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya dengan tajuk “Laporan Kontribusi sebagai Alumni Awardee LPDP”. 

Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa masyarakat berhak mempertanyakan pertanggungjawaban penerima beasiswa. “Buatku, kalian berhak bertanya soal ini! Sebagai sesama rakyat, yang membayar pajak. Aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau ‘investasi’ kita menghasilkan output yang baik buat bangsa,” tulisnya di Instagram, dikutip Selasa 24 Februari 2026.

Tasya menjelaskan bahwa ia menempuh pendidikan magister di Columbia University pada program Public Administration in Energy and Environmental Policy, dan lulus delapan tahun silam. Latar belakangnya sebagai Duta Lingkungan Hidup sejak 2005 menjadi dasar pemilihan bidang studi tersebut.

Selama masa studi, Tasya mengaku aktif dalam berbagai organisasi internasional, menjalani program magang di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta mengembangkan proyek Desa Mandiri Energi di Sumba, Nusa Tenggara Timur. 

Ia menyelesaikan studi tepat waktu dengan indeks prestasi 3,75. Bahkan, ia mengungkapkan harus tetap mengikuti ujian saat sang ayah wafat, sehingga tidak dapat langsung pulang ke Tanah Air.

Usai menuntaskan pendidikan, Tasya Kamila kembali ke Indonesia dan menjalani masa bakti LPDP periode 2018–2023. Ia menegaskan perannya sebagai penghubung antara pembuat kebijakan dan masyarakat luas dalam kapasitasnya sebagai figur publik. 

Bentuk kontribusi tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan sejumlah kementerian serta keberlanjutan perannya sebagai Duta Lingkungan Hidup.

Selain itu, ia menginisiasi gerakan berbasis masyarakat melalui yayasan Green Movement Indonesia, serta aktif memberdayakan generasi muda lewat seminar, diskusi, dan lokakarya di bidang pendidikan, lingkungan, dan kesehatan. 

Tasya Kamila juga sempat menjadi pengajar di platform pendidikan daring dan tetap berkiprah di industri kreatif nasional.

Melalui media sosialnya, ia konsisten membagikan edukasi terkait isu keberlanjutan dan pengembangan sumber daya manusia demi mendukung visi Generasi Emas Indonesia. Ia menambahkan bahwa LPDP tidak secara rinci mengatur bentuk kontribusi selama masa bakti, sehingga interpretasi pengabdian dapat beragam.

Di akhir pernyataannya, Tasya Kamila menekankan bahwa kontribusi terhadap bangsa tidak berhenti setelah masa bakti formal berakhir. Menurutnya, setiap individu memiliki ruang untuk memberi dampak positif, termasuk perempuan yang memilih fokus di ranah domestik. 

“Siapapun kita memiliki tempat untuk berkontribusi, asal kita mengusahakannya. Termasuk kami, para ibu rumah tangga,” pungkasnya.

(Mly)